Pembahasan

 

  MU’TAZILAH

 

  1. Latar Belakang Munculnya Mu’tazilah

 

Secara harafiah kata Mu’tazilah berasal dari i’tazala yang berarati berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis,, istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan.Golongan pertama ( selanjutnya disebut Mu’tazilah I ) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawanlawannya terutama Mu’awiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Ziubair.

 

 Golongan kedua ( selanjutnya Mu’tazilah II ) muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang-orang yang berbuat dosa besar.Pemberian nama Mu’tazilah ada beberapa versi, salah satunya adalah berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil bin Ata serta temannya, Amr bin Ubaid, dan Hasan Al-Basri Basrah. Ketika Wasil mengikuti pelajaran dari Hasan Al-Basri,datang seseorang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Basri tentang orang yang berdosa besar.

 

Ketika Hasan Al-Basri masih berpikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan. “ Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah  mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir. ” Kemudian Wasil menjauhkan diri  dari Hasan. Setelah itu, Hasan berkata, “ Wasil menjauhkan diri dari kita ( I’tazala anna ).” Menurut Asy-Syahrastani, kelompok yang memisahkan dari pada peristiwa inilah yang disebut kaum Mu’tazilah.[1]

 

  1. DOKTRIN-DOKTRIN  MU’TAZILAH
    1. At-Tauhid

At-Tauhid( pengesaan Allah) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhan lah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tidak adasatu pun yang menyamai-Nya.

  1. Al-Adl

Al-Adl yang berarti Tuhan Maha Adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gambling untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan Maha Sempurna, Dia sudah pasti adil.

Adilan tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, antara lain berikut ini:

  1. Perbuatan Manusia

Manusia menurut Mu’tazilah,manusia bena-benar bebas untuk menentukan pilihan perbuatannya; baik atau buruk.  Tuhan hanya menyuruh dan menghendaki yang baik, bukan yang buruk. Tuhan berlepas diri dari perbuatan yang buruk. Konsep ini memiliki  konsekuensi logis dengan kedilan Tuhan bahwa apa yang akan diterima di akhirat merupakan balasan perbutannya di dunia.

 

  1. Berbuat baik dan terbaik

Dalam bahasa arab, disebut ash-shalah wa al ashlah. Maksudnya adalah kewajban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan Tuhan Penjahat dan Penganiaya, sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Tuhan, yaitu sifat-sifat yang layak baginya.

 

  1. Mengutus Rasul

Mengutus rasul kepada manusia merupakan kewajiban Tuhan karena alsan-alasan berikut :

a)      Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat erwujud, kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.

b)      Al-Quran secara tegas meyatakan kewjiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia.

c)      Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut berhasil, tidak ada jalan lain, selain mengutus Rasul.

 

  1. Al-Wa’d wa al-Wa’id

Ajaran ini begitu erat hubungannya dengan ajran kedua diatas. Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janji-Nya. Perbuatan Tuhan terkait dan dibatasi oleh janji-Nya sendiri.Yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik dan ancaman neraka bagi yang berbuat durhaka.Begitu pula janji yang memberi pengampunan pada orang yang bertobat nasuha.Ajaran ini bertujuan untuk mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.[2]

 

 

  1. Al-Manzilah bain al-manzilatain

Inilah ajaran yang mula-mula menyebabkan lahirnya madzhab Mu’tazilah. Pokok ajaran ini adalah bahwa mu’min yang melakukan dosa besar dan belum bertobat maka ia bukan lagi mu’min atau kafir, tetapi fasik. Ajaran ini bertujuan agar manusia tidak menyepelekan perbuatan dosa, terutama dosa besar.

 

  1. Al Amr bi Al-Ma’rufwa An-Nahynan Munkar

Ajaran kelima ini menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran.Ajaran ini menekankan kepada kebenaran dan kebaikan.Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang.Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya menyuruh oarng berbuat baik dan mencegah dari kejahatan.[3]

 

  1. TOKOH-TOKOH MUTA’ZILAH

1.      Washil bin atha’

Washil bin atho’di lahirkan di madinah tahun 70-an. Ia pindah kebasrah untuk belajar. Di sana ia berguru kepada seorang ulama masyur, yaitu hasan al-basri. Washil bin atho’ temasuk rmurid yang pandai,cerdas, tekun belajar. Ia berani berani mengeluarkan pendapat yang berbeda sehingga ia bersama pengikutnya di namakan golongan di namakan mu’tazillah. Pemikiran adalah diantara nya seorang muslim yang berbuat doosa besar dihukumi tidak mukmin dan tidak pula kafir, tetapi fasik dan keberadan orang tersebut diantaranya mukmin dan kafir.

Washil bin atho’ untuk mengguatkan pendapat bahwa iman itu adalah ungkapan bagi sifat-sifat oran yang baik, yanyg apabila sifanya-sifat tersebut terkumpul pada diri seseorang  maka ia di sebut mukmin.dengan demikian, kata mukmin tersebut murupakan nama pujian. Orang yang melakukan dosa besar berarti memiliki sifat-sifat yang tidak baik, maka ia tidak berhak untuik mendapakan nama pujian itu.

2.      Abu huzail al-allaf

Abu huzail al-allaf di ;lahirkantahun 135h/751 m. ia berguru kepad usman at-tawil (murid washil bin atho’)dan hidup dimana pada zaman dimana ilmu pengetahuan seperti filsafat dan ilmu-ilmu lain dari yunani \telah berkembang pesat di diunia arab.ia wafat tahun 235 h /849 m.abu huzail merupakan generasi kedua mu’tazillah yang menintroduksi dan menyusun dasar-dasar paham mu’tazillah dan disebut ushul khamsah.

  1. Al-jubai

Ia mempunyai nama ali muhamad binabdul wahabyang lahir tahun25 h/849 mdi jubai. Al-jubaiberguru kepada asy-syahham, salah seorang murid abu huzail.ia mempunyai pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh mu’tazillah lainnya, yakni mereka mengutamakan akal dalam memahami dan memecahkan perssoalan teologi.

  1. As-zamakhsyari

Az-zamaksyari lahir pada tahun 467 h dan belajar di beberapa negara, ia pernah bermukim di tanah suci mekah  dalam rangka belajar agama, selain itu juga banyak mengunakan waktunya untuk menyusuk kitab tafsir al-kasysyaf yang berorientasi paham mu’tazillah,meski demikian kitab tafsir beliau tidakhanya di guna dari kalangan mu’tazillah saja. Beliau juga banyak juga menyusun buku tentah balaghah bahasah dan lainnya dan ia wafat tahun 538 H

 

 

 

 

ASY-‘ARIYAH

 

                               I.            LATAR BELAKANG ASY-‘ARIYAH

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 260 H/875 M. ayahnya wafat ketika ia masih kecil dan ibunya menikah lagi dengan tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Berkat didikan ayah tirinya Al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mu’tazilah.Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.Al-asy’ari menganut paham mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. Setelah itu , secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah.

                            II.            DOKTRIN-DOKTRIN TEOLOGI ASY-‘ARIYAH

  1. Tuhan dan sifat-Sifat-Nya

Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat (Wujud, qidam, baqa, wahdania, sama’, basyar, dll) dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah ,melainkan secara simbolis.selanjutnya Al-asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip .

  1. Kebebasan dalam berkehendak

Al-Asy’ari membedakan antara khaliq dan  kasb , menurutnya Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia. Sedangkan manusia sendiri yang mengupayakan . hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu ( termasuk keinginan manusia).

  1. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk

Walaupul Al-asy’ari dan orang-orang mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu , mereka berbeda dalam menghadapi persoalan .Al-asy’ari mengutamakan wahyu sementara mu’tazilah mengutamkan akal.dalam menetukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat. Al-asy’ari berpendapat bahwa baik buruk harus berdasarkan wahyu sedangkan mu’taazilah berdasarkan pada akal.

 

  1. Melihat Allah

 

Al-Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah ,yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu juga tidak sependapat dengan mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat allah ) di akhirat.  Al-asy;ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.

  1. Keadilan

Pada dasarnya Al-asy’ari dan mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada  orang yang berbuat baik. Menurutnya , allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah penguasa Mutlak.

  1. Kedudukan orang yang berdosa

Al-asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang di anut Mu’tazilah.  Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh krena itu, Al asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin  hilang karena dosa selain kufr.

                                                          

 

 

 

                         III.            TOKOH-TOKOH ASY-‘ARIYAH

1. Al-Baqillani

 

       Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

 

2. Al-Juwaini

Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:

  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan.

4.      Al-Ghazaly

Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll.Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.

 

PERBANDINGAN ANTARA MU’TAZILAH DAN AL-ASY’ARI

  1. Perbandingan tentang dosa besar

Mu’tazilah tidak menentukan status atau predikat yang pasti mengenai pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali dengan sebutan al-manzilah bain al-manzilatain (fasik).

Al-asy’ari berpendapat kalau orang yang melakukan dosa besar masih tetap beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia di pandang telah kafir.

  1. Perbandingan tentang iman dan kufur

Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan unsure terpenting dalam konsep iman , bahkan hamper mengidentifikasikannya dengan iman. Aspek penting lainnya tentan iman yaitu apa yang mereka identifikasikan dengan sebagai ma’rifah (pengetahuan dan akal).

Al-asy’ari berkata,”..iman (secara esensial) adalah  tashdiq bi al-jaman (membenarkan dalam hati), mengatakan dengan lisan, dan melakukan berbagai kewajiban. …. Keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.”

  1. Perbandingan tentang perbuatan tuhan dan perbuatan manusia
  • Perbuatan tuhan

Berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Anbiya[21]:23 dan surat Ar-Rum[30]:8, mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan MahaSuci dari perbuatan buruk. Faham ini memunculkan faham kewajiban Allah yaitu, kewajiban tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia, kewajiban mengirimkan rasul, dan kewajiban menepati janji dan ancaman.

Paham mu’tazilah tidak dapat di terima ole Al-Asy’ari, karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan. Dengan demikian Al-Asy’ari tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat berbuat sekehendak hatiNya terhadap makhluk.

  • Perbuatan manusia

Aliran mu’tazilah memandang manusia mempunya daya yang besar dan bebas. Manusia sendirilah yang berbuat baik dan buruk.

Aliran al-asy’ari berpendapat bahwa perbuatan manusia di ciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya.[4]

  1. Perbandingan tentang sifat Allah

Menurut mu’tazilah Allah tidak memiliki sifat sedangkan menurut al-asy’ari Allah mempunyai sifat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

                Rozak,Abdul dan Anwar Rosihon.2006: Ilmu Kalam. Bandung. Pustaka Setia.

 

               http://waskitozx.wordpress.com/makalah/makalah-pendidikan-islam/makalah-akidah/aliran-mutazilah-sejarah-tokoh-dan-ajaranya/ senin110313

             

             Abas, Nukman.Al-asy’ar(874-935 M) Misteri Perbuatan manusia dan Takdir Tuhan.Jakarta.Erlangga.

 

 


[1] Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Pustaka setia. Cet.II 2006. Bandung, hlm.77

[3] Abdul rozak, op.cit.,hlm.80

[4] Abdul Rozak. Op.cit.,hal.167

Pembahasan

 

MU’TAZILAH

 

  1. Latar Belakang Munculnya Mu’tazilah

 

Secara harafiah kata Mu’tazilah berasal dari i’tazala yang berarati berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis,, istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan.Golongan pertama ( selanjutnya disebut Mu’tazilah I ) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawanlawannya terutama Mu’awiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Ziubair.

 

 Golongan kedua ( selanjutnya Mu’tazilah II ) muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang-orang yang berbuat dosa besar.Pemberian nama Mu’tazilah ada beberapa versi, salah satunya adalah berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil bin Ata serta temannya, Amr bin Ubaid, dan Hasan Al-Basri Basrah. Ketika Wasil mengikuti pelajaran dari Hasan Al-Basri,datang seseorang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Basri tentang orang yang berdosa besar.

 

Ketika Hasan Al-Basri masih berpikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan. “ Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah  mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir. ” Kemudian Wasil menjauhkan diri  dari Hasan. Setelah itu, Hasan berkata, “ Wasil menjauhkan diri dari kita ( I’tazala anna ).” Menurut Asy-Syahrastani, kelompok yang memisahkan dari pada peristiwa inilah yang disebut kaum Mu’tazilah.[1]

 

  1. DOKTRIN-DOKTRIN  MU’TAZILAH
    1. At-Tauhid

At-Tauhid( pengesaan Allah) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhan lah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tidak adasatu pun yang menyamai-Nya.

  1. Al-Adl

Al-Adl yang berarti Tuhan Maha Adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gambling untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan Maha Sempurna, Dia sudah pasti adil.

Adilan tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, antara lain berikut ini:

  1. Perbuatan Manusia

Manusia menurut Mu’tazilah,manusia bena-benar bebas untuk menentukan pilihan perbuatannya; baik atau buruk.  Tuhan hanya menyuruh dan menghendaki yang baik, bukan yang buruk. Tuhan berlepas diri dari perbuatan yang buruk. Konsep ini memiliki  konsekuensi logis dengan kedilan Tuhan bahwa apa yang akan diterima di akhirat merupakan balasan perbutannya di dunia.

 

  1. Berbuat baik dan terbaik

Dalam bahasa arab, disebut ash-shalah wa al ashlah. Maksudnya adalah kewajban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan Tuhan Penjahat dan Penganiaya, sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Tuhan, yaitu sifat-sifat yang layak baginya.

 

  1. Mengutus Rasul

Mengutus rasul kepada manusia merupakan kewajiban Tuhan karena alsan-alasan berikut :

a)      Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat erwujud, kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.

b)      Al-Quran secara tegas meyatakan kewjiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia.

c)      Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut berhasil, tidak ada jalan lain, selain mengutus Rasul.

 

  1. Al-Wa’d wa al-Wa’id

Ajaran ini begitu erat hubungannya dengan ajran kedua diatas. Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janji-Nya. Perbuatan Tuhan terkait dan dibatasi oleh janji-Nya sendiri.Yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik dan ancaman neraka bagi yang berbuat durhaka.Begitu pula janji yang memberi pengampunan pada orang yang bertobat nasuha.Ajaran ini bertujuan untuk mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.[2]

 

 

  1. Al-Manzilah bain al-manzilatain

Inilah ajaran yang mula-mula menyebabkan lahirnya madzhab Mu’tazilah. Pokok ajaran ini adalah bahwa mu’min yang melakukan dosa besar dan belum bertobat maka ia bukan lagi mu’min atau kafir, tetapi fasik. Ajaran ini bertujuan agar manusia tidak menyepelekan perbuatan dosa, terutama dosa besar.

 

  1. Al Amr bi Al-Ma’rufwa An-Nahynan Munkar

Ajaran kelima ini menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran.Ajaran ini menekankan kepada kebenaran dan kebaikan.Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang.Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya menyuruh oarng berbuat baik dan mencegah dari kejahatan.[3]

 

  1. TOKOH-TOKOH MUTA’ZILAH

1.      Washil bin atha’

Washil bin atho’di lahirkan di madinah tahun 70-an. Ia pindah kebasrah untuk belajar. Di sana ia berguru kepada seorang ulama masyur, yaitu hasan al-basri. Washil bin atho’ temasuk rmurid yang pandai,cerdas, tekun belajar. Ia berani berani mengeluarkan pendapat yang berbeda sehingga ia bersama pengikutnya di namakan golongan di namakan mu’tazillah. Pemikiran adalah diantara nya seorang muslim yang berbuat doosa besar dihukumi tidak mukmin dan tidak pula kafir, tetapi fasik dan keberadan orang tersebut diantaranya mukmin dan kafir.

Washil bin atho’ untuk mengguatkan pendapat bahwa iman itu adalah ungkapan bagi sifat-sifat oran yang baik, yanyg apabila sifanya-sifat tersebut terkumpul pada diri seseorang  maka ia di sebut mukmin.dengan demikian, kata mukmin tersebut murupakan nama pujian. Orang yang melakukan dosa besar berarti memiliki sifat-sifat yang tidak baik, maka ia tidak berhak untuik mendapakan nama pujian itu.

2.      Abu huzail al-allaf

Abu huzail al-allaf di ;lahirkantahun 135h/751 m. ia berguru kepad usman at-tawil (murid washil bin atho’)dan hidup dimana pada zaman dimana ilmu pengetahuan seperti filsafat dan ilmu-ilmu lain dari yunani \telah berkembang pesat di diunia arab.ia wafat tahun 235 h /849 m.abu huzail merupakan generasi kedua mu’tazillah yang menintroduksi dan menyusun dasar-dasar paham mu’tazillah dan disebut ushul khamsah.

  1. Al-jubai

Ia mempunyai nama ali muhamad binabdul wahabyang lahir tahun25 h/849 mdi jubai. Al-jubaiberguru kepada asy-syahham, salah seorang murid abu huzail.ia mempunyai pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh mu’tazillah lainnya, yakni mereka mengutamakan akal dalam memahami dan memecahkan perssoalan teologi.

  1. As-zamakhsyari

Az-zamaksyari lahir pada tahun 467 h dan belajar di beberapa negara, ia pernah bermukim di tanah suci mekah  dalam rangka belajar agama, selain itu juga banyak mengunakan waktunya untuk menyusuk kitab tafsir al-kasysyaf yang berorientasi paham mu’tazillah,meski demikian kitab tafsir beliau tidakhanya di guna dari kalangan mu’tazillah saja. Beliau juga banyak juga menyusun buku tentah balaghah bahasah dan lainnya dan ia wafat tahun 538 H

 

 

 

 

ASY-‘ARIYAH

 

                               I.            LATAR BELAKANG ASY-‘ARIYAH

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 260 H/875 M. ayahnya wafat ketika ia masih kecil dan ibunya menikah lagi dengan tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Berkat didikan ayah tirinya Al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mu’tazilah.Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.Al-asy’ari menganut paham mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. Setelah itu , secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah.

                            II.            DOKTRIN-DOKTRIN TEOLOGI ASY-‘ARIYAH

  1. Tuhan dan sifat-Sifat-Nya

Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat (Wujud, qidam, baqa, wahdania, sama’, basyar, dll) dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah ,melainkan secara simbolis.selanjutnya Al-asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip .

  1. Kebebasan dalam berkehendak

Al-Asy’ari membedakan antara khaliq dan  kasb , menurutnya Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia. Sedangkan manusia sendiri yang mengupayakan . hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu ( termasuk keinginan manusia).

  1. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk

Walaupul Al-asy’ari dan orang-orang mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu , mereka berbeda dalam menghadapi persoalan .Al-asy’ari mengutamakan wahyu sementara mu’tazilah mengutamkan akal.dalam menetukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat. Al-asy’ari berpendapat bahwa baik buruk harus berdasarkan wahyu sedangkan mu’taazilah berdasarkan pada akal.

 

  1. Melihat Allah

 

Al-Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah ,yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu juga tidak sependapat dengan mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat allah ) di akhirat.  Al-asy;ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.

  1. Keadilan

Pada dasarnya Al-asy’ari dan mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada  orang yang berbuat baik. Menurutnya , allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah penguasa Mutlak.

  1. Kedudukan orang yang berdosa

Al-asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang di anut Mu’tazilah.  Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh krena itu, Al asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin  hilang karena dosa selain kufr.

                                                          

 

 

 

                         III.            TOKOH-TOKOH ASY-‘ARIYAH

1. Al-Baqillani

 

       Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

 

2. Al-Juwaini

Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:

  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan.

4.      Al-Ghazaly

Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll.Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.

 

PERBANDINGAN ANTARA MU’TAZILAH DAN AL-ASY’ARI

  1. Perbandingan tentang dosa besar

Mu’tazilah tidak menentukan status atau predikat yang pasti mengenai pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali dengan sebutan al-manzilah bain al-manzilatain (fasik).

Al-asy’ari berpendapat kalau orang yang melakukan dosa besar masih tetap beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia di pandang telah kafir.

  1. Perbandingan tentang iman dan kufur

Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan unsure terpenting dalam konsep iman , bahkan hamper mengidentifikasikannya dengan iman. Aspek penting lainnya tentan iman yaitu apa yang mereka identifikasikan dengan sebagai ma’rifah (pengetahuan dan akal).

Al-asy’ari berkata,”..iman (secara esensial) adalah  tashdiq bi al-jaman (membenarkan dalam hati), mengatakan dengan lisan, dan melakukan berbagai kewajiban. …. Keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.”

  1. Perbandingan tentang perbuatan tuhan dan perbuatan manusia
  • Perbuatan tuhan

Berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Anbiya[21]:23 dan surat Ar-Rum[30]:8, mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan MahaSuci dari perbuatan buruk. Faham ini memunculkan faham kewajiban Allah yaitu, kewajiban tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia, kewajiban mengirimkan rasul, dan kewajiban menepati janji dan ancaman.

Paham mu’tazilah tidak dapat di terima ole Al-Asy’ari, karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan. Dengan demikian Al-Asy’ari tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat berbuat sekehendak hatiNya terhadap makhluk.

  • Perbuatan manusia

Aliran mu’tazilah memandang manusia mempunya daya yang besar dan bebas. Manusia sendirilah yang berbuat baik dan buruk.

Aliran al-asy’ari berpendapat bahwa perbuatan manusia di ciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya.[4]

  1. Perbandingan tentang sifat Allah

Menurut mu’tazilah Allah tidak memiliki sifat sedangkan menurut al-asy’ari Allah mempunyai sifat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

                Rozak,Abdul dan Anwar Rosihon.2006: Ilmu Kalam. Bandung. Pustaka Setia.

 

               http://waskitozx.wordpress.com/makalah/makalah-pendidikan-islam/makalah-akidah/aliran-mutazilah-sejarah-tokoh-dan-ajaranya/ senin110313

             

             Abas, Nukman.Al-asy’ar(874-935 M) Misteri Perbuatan manusia dan Takdir Tuhan.Jakarta.Erlangga.

 

 


[1] Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Pustaka setia. Cet.II 2006. Bandung, hlm.77

[3] Abdul rozak, op.cit.,hlm.80

[4] Abdul Rozak. Op.cit.,hal.167

the example of speech

Posted: Juni 4, 2013 in Uncategorized

INTERNET EFFECT FOR OUR LIFE

 

Assalamu’alaikum Wr. Wb

The honorable Mr.Faizal Risdianto and  my beloved friend, thank you very much to give me time so I can stand up here in front all of you to deliver a speech.

Well, today, in this very special moment, let me stand here to deliver a speech about Internet Effect for Our Life.

As we know, nowadays, Internet is very important for us. everyone is of course well known about inetrnet. As you probably know, internet is such a knife which has two different sides (positive and negative effects). All of It is depend on ourselves , how to use the internet rightly .

            Many various different is offered by internet like emailing, chatting , and the voice conversation system. These systems have not only made the communication easy but also the daily lives interactions is more fun. Recently, internet is often used to get profit , like online business, and advertisement .  The other blessings of the internet that we can get on anything at all over the net and also the entertainment via the games, websites, social network and media access which was never so easy before.

But everything has the negative aspect to it and so does the internet, the biggest threat of the internet is in the pornography ,deception and the security threats. Pornography is widespread over the internet making it inappropriate to be used by the children. These sites are easily accessible and attractive for the teenagers and young kids. Then  deception on internet is often happen. Usually they use online business or social network to trap the victims. So we should be careful in using of internet.

The security over the internet cannot be guaranteed from the internet crime, such as people who hack  our privacy account. Then deception on social network and serious cases of murders which have become increasingly popular  because of internet.

I’d like to conclude my speech by saying that there are many positive and negative effect, we should can use the internet wisely, and the parent should be control their children  in using internet.  and the government should be blocking on pornography web. It doesn’t just  by ourselves, family or  government but we must do  it together. i think , it can reduce the problem on the internet. If all of people are cooperative.

Finally. I think enough , I hope my speech can be useful for us, thanks for your attention.

Wassalamu’alaikum wr,wb.

 

 

 

Report Text

Posted: Juni 4, 2013 in Uncategorized
  1. Definition of Report Text

 

The term report text are also known as informational report. Report, in the Concise Oxford Dictionary 10th Edition, is defined as 1) an account is given of a matter after investigation or consideration. 2) a piece of information about an event or situation. If concluded, the language of the text is the text of the report serves to provide information about an event or situation, after the holding of the investigation and through the various considerations.

 

Definition text report is also almost similar to what is often mentioned in various books of English at secondary level, “Report is a text the which present information about something, as it is. It is as a result of systematic observation and analyzes.” [Report is a text that presents information on a case by what it is. This text is the result of systematic observation and analysis.]

 

Thus, the actual descriptive text of the report and have a fairly clear difference, although both appear to be a “twin brother” though.In essence, the report usually contains the text that the facts can be proved scientifically, OK ..

 

  1. Text Generic Structure Report.

 

As with descriptive text, text Report also only have two common structures [generic structure], namely:

s  General Clasification; general statements that describe the subject of a report, description, and classification.

s  Description: Tells what the phenomenon under discussion; in terms of parts, qualities, habits or behaviors; In this section usually gives the phenomena that occur; both its parts, its properties, habit, or behavior. The point is the translation of scientific classification are presented with.

 

There is also some information about the generic text structure report, which includes:

  1. General information

General information is the part that mentions the general information of literary themes.

  1. Bundles of Specific Information 

 Bundles of specific information, the elaboration of this general information.

  1. Purpose of Report Text

 

Each paper must have a purpose why the article was written. So is the report

text. Some experts say that the purpose of a text report are:

s  Its social purpose is presenting information about something. They describe an entire Generally class of things, whether natural or made: Mammals, the planets, rocks, plants, countries of region, culture, transportation, and so on.
If concluded, the purpose of the report text is to convey information on the results of observation and systematic analysis. The information described in the report text is usually general in nature, be it natural or synthetic like mammals, planets, rocks, plants, state, culture, transportation, and so forth.

  1. Grammar patterns in Report Text

Each paper must have features of its own language; if recount text and narrative text likely to have a feature to use simple past, and how to report the text? Okay here are the patterns of grammar commonly used in text reports, which include:

 

ü  Use of general nouns, eg hunting dogs, rather than particular nouns, eg our dog;

ü  Use of Relating verbs to describe features, eg Molecules are tiny particles;

ü  Some use of action verbs when describing behavior, eg Emus can not fly;

ü  Use of timeless present tense to indicate usualness, eg Tropical cyclones always begin over the sea; (often,usually, always)

ü  Use of technical terms, eg Isobars are lines drawn on a weather map;

ü  Use of paragraphs with topic sentences to organise bundles of information; repeated naming of the topic as the beginning focus of the clause.

s  Description:

General nouns, that is, an object (be it live or dead) of a general nature. Just compare: Hunting dogs> <My dog. Hunting dogs are common, while my dog ​​is special.
Relating verbs, the grammar is also called linking verbs. Like to be [is, am, are: present], seem, look, taste and so forth.
Timeless present tense is a simple marker in the present time such as “Often, usually, always” and others.
Technical terms, referring to terms that include the text of the report. For example, about the “music” then, the terms of the music should be there.

 

  1. The Function of report text

s  SOCIAL FUNCTIONS Of REPORT TEXT
purpose for writing text report can be seen from the view of some experts whom :

a)      To inform (Hardy dan Klarwein, 1990)

b)      To provide information about natural and non-natural phenomena (Hammond, dkk., 1992)

c)      To document, organize and store factual information on a topic … classify and describe the phenomena of our world … about a whole class of things … [not about] one specific thing … about living things like plants and animals, and non-living things like phones, bikes, or oceans. (Derewianka, 1990)

d)     To describe the way things are, with reference to a range of natural, man-made and social phenomena in our environment (Gerot dan Wignell, 1994)to describe the way things are, with reference to a whole range of phenomena, natural, synthetic and social in our environment (Callaghan dan Rothery, 1988)

 

  1. Difference between report text and descriptive text

 

 

Descriptive Text

Report Text

Definition

A text which give explanation more specific  (khusus)

A text which give explanation more general ( umum)

Example

Music Box

 

Music boxes are small instrument that play tunes by themselves. The music-making parts of a music box are a cylinder and a row of metal teeth of different lengths. A spring or a set of wheels turns the cylinder.

Music

 

Music is sound put into pleasing or interesting patterns. People use music for a part of ceremonies, such as religious services, parades, and weddings. People also use music to show their feelings and ideas.

Purpose

To give information, which describe or explain special (khusus) phenomena about environment, social, education, politic , culture and the other.

To give information which describe or explain general (umum) phenomena about environment, social, education, politic , culture and the other.

Text generic structure

  • Identification: consist of general information  and classification.
  • Description : the explanation  more detail about characteristic, feature , shape and the other.
  • it use simple present.
  • Identification:. consist of general information  and classification.
  • Description : : the explanation  more detail about characteristic, feature , shape and the other.

       it use simple present

 

GambarGambarGambarGambarGambarGambarGambar

Sampingan  —  Posted: Juni 4, 2013 in Uncategorized

Pendidikan Karakter
Oleh: Dr Hamid Fahmy Zarkasyi

Ketika anak-anak sekolah hobi tawuran hingga baku bunuh; di saat anak-anak remaja kecanduan narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba); manakala kasus perkosaan biasa menimpa remaja wanita bahkan anak-anak dibawah umur, orang lalu bertanya salah siapa?

Jika orang mencari kesalahan tuduhan pertama tentu mengarah pada pendidikan sekolah. Tapi pihak sekolah pasti akan mengkritik pendidikan orang tua. Orang tua pun merasa tidak berdaya melawan pengaruh kehidupan masyarakat yang rusak. Seperti sebuah lingkaran, orang tidak segera menemukan sebab awalnya.

Kini solusi yang ditawarkan adalah pendidikan karakter (character education) yang dibebankan ke pundak sekolah. Di Amerika pendidikan ini sebenarnya bukan hal baru. Sebelum terjadi hura hara kekerasan di sekolah-sekolah Amerika, Horce Mann, tokoh pendidikan Amerika, sudah mendukung dan mengarahkan adanya program pendidikan karakter di sekolah. Tapi ia bersama tokoh pendidikan abad 20 ragu pendidikan karakter ini akan mengarah pendidikan moral. Sebab moral biasanya dikaitkan dengan keluarga dan gereja.

Meski dikhawatirkan menjadi pendidikan moral atau agama, tapi pada tahun 1980 dan 1990an pendidikan karakter di Amerika memperoleh perhatian kembali. Menurut Vessels, G. G ini untuk pencegahan dekadensi moral (Character and community development: A school lanning and teacher training handbook, 1998, hal.5). Tapi menurut Beach, W dan Lickona, T., ini bukan hanya mencegah tapi sudah harus memperbaiki moral yang sudah merosot. (Lihat Beach, W. Ethical education in American public schools. Lickona, T. (1991). Educating for character: How our schools can teach respect and responsibility).

Tapi karena inisiatif solusi ini tidak datang dari pendidik, penekanannya hanya pada perilaku standar dan kebiasaan yang positif. Perhatian kembali ini didukung oleh para politisi dan pemimpin Negara. Clinton, misalnya mengadakan lima konferensi tentang pendidikan karakter. Dilanjutkan oleh George W Bush yang menjadikan pendidikan karakter sebagai fokus utama dalam agenda reformasi pendidikan.

Tapi apa itu pendidikan karakter itu? Lockwood, A. T mengartikan pendidikan karakter sebagai program sekolah, untuk membentuk anak-anak muda secara sistematis dengan nilai-nilai yang diyakini dapat mengubah perilaku mereka. (Lockwood, A. T. Character education: Controversy and consensus 1997, hal. 5-6). Namun secara luas diartikan pula sebagai penanaman sifat sopan, sehat, kritis, dan sikap-sikap sosial seperti kewarganegaraan yang dapat diterima masyarakat.

Kekhawatiran Horace Mann terbukti. Pendidikan karakter dianggap sama dengan pendidikan moral atau sekurangnya mirip. Maka para penganut Protestan di Amerika segera mencium bau pendidikan moral dalam pendidikan karakter ini. Mereka pun protes. Ini mereka anggap sebagai penjelmaan dari program pendidikan agama dan nilai yang dianggap telah gagal di masa lalu.

Untuk itu arti pendidikan moral mulai dikaburkan dari nilai-nilai agama dan diartikan sebagai upaya sadar untuk membantu orang lain mencari pengetahuan, skill, tingkah laku, dan nilai untuk kepentingan pribadi dan sosial (Kirschenbaum, 100 ways to enhance values and morality in school and youth settings).

Tapi istilah dan konsep pendidikan karakter pun bukan tanpa masalah. Apa yang disebut baik dan perilaku baik itu di Barat relatif. Nilai baik buruk berubah seiring dengan perubahan kehidupan. Akhirnya pendidikan bukan untuk menanamkan nilai, tapi menggali nilai-nilai yang sesuai dengan nilai mereka yang boleh jadi bersifat lokal. Di Amerika karakter yang ditanamkan di sekolah sesuai dengan latar belakang dan perkembangan sosial dan ekonomi mereka sendiri.

Di Amerika isu sentralnya adalah nilai-nilai feminisme, liberalisme, pluralisme, demokrasi, humanisme dan sebagainya. Maka arah pendidikan karakter di sana adalah untuk mencetak sumber daya manusia yang pro gender, liberal, pluralis, demokratis, humanis agar sejalan dengan tuntutan sosial, ekonomi, dan politik di Amerika. Tapi herannya mengapa di Indonesia yang problemnya berbeda mesti harus menanamkan nilai-nilai dari negara asing?

Berhasilkah pendidikan karakter ini menyelesaikan masalah bangsa Amerika? Ternyata tidak. Pada tahun 2007 Kementerian Pendidikan Amerika Serikat melaporkan bahwa mayoritas pendidikan karakter telah gagal meningkatkan efektifitasnya. Bulan oktober 2010 sebuah penelitian menemukan bahwa program pendidikan karakter di sekolah-sekolah tidak dapat memperbaiki perilaku pelajar atau meningkatkan prestasi akademik.

Ternyata dibalik itu terdapat beberapa masalah. Pertama tidak ada kesepakatan dari konseptor dan programmer pendidikan karakter tentang nilai-nilai karakter apa yang bisa diterima bersama. Karakter kejujuran, kebaikan, kedermawanan, keberanian, kebebasan, keadilan, persamaan, sikap hormat dan sebagainya secara istilah bisa diterima bersama. Namun, ketika dijabarkan secara detail akan berbeda-berbeda dari satu bangsa dengan bangsa lain.

Masalah kedua, ketika harus menentukan tujuan pendidikan karakter terjadi konflik kepentingan antara kepentingan agama dan kepentingan ideologi. Ketiga, konsep karakter masih ambigu karena – merujuk pada wacana para psikolog – masih merupakan campuran antara kepribadian (personality) dan perilaku (behaviour).

Persoalan keempat dan terakhir arti karakter dalam perspektif Islam hanyalah bagian kecil dari akhlaq. Pendidikan karakter hanya menggarami lautan makna pendidikan akhlaq. Sebab akhlaq berkaitan dengan iman, ilmu dan amal.

Semua perilaku dalam Islam harus berdasarkan standar syariah dan setiap syariah berdimensi maslahat. Maslahat dalam syariah pasti sesuai dengan fitrah manusia untuk beragama (hifz al-din), berkepribadian atau berjiwa (hifz al-nafs), berfikir (hifz al-‘aql), berkeluarga (hifz al-nasl) dan berharta (hifz al-mal). Jadi untuk menyelesaikan persoalan bangsa secara komprehensif tidak ada jalan lain kecuali kita letakkan agama untuk menjaga kemaslahatan manusia dan kita sujudkan maslahat manusia untuk Tuhannya. Wallahu a’lam.*

Dikutip dari http://insistnet.com/index.php?option=com_content&view=article&id=520:pendidikan-karakter&catid=23:pendidikan-islam&Itemid=23

Kutipan  —  Posted: Juni 4, 2013 in Uncategorized