contoh makalah ilmu kalam “mu’tazilah” dan “asy’-ariyah”

Posted: Juni 5, 2013 in Uncategorized

Pembahasan

 

  MU’TAZILAH

 

  1. Latar Belakang Munculnya Mu’tazilah

 

Secara harafiah kata Mu’tazilah berasal dari i’tazala yang berarati berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis,, istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan.Golongan pertama ( selanjutnya disebut Mu’tazilah I ) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawanlawannya terutama Mu’awiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Ziubair.

 

 Golongan kedua ( selanjutnya Mu’tazilah II ) muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang-orang yang berbuat dosa besar.Pemberian nama Mu’tazilah ada beberapa versi, salah satunya adalah berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil bin Ata serta temannya, Amr bin Ubaid, dan Hasan Al-Basri Basrah. Ketika Wasil mengikuti pelajaran dari Hasan Al-Basri,datang seseorang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Basri tentang orang yang berdosa besar.

 

Ketika Hasan Al-Basri masih berpikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan. “ Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah  mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir. ” Kemudian Wasil menjauhkan diri  dari Hasan. Setelah itu, Hasan berkata, “ Wasil menjauhkan diri dari kita ( I’tazala anna ).” Menurut Asy-Syahrastani, kelompok yang memisahkan dari pada peristiwa inilah yang disebut kaum Mu’tazilah.[1]

 

  1. DOKTRIN-DOKTRIN  MU’TAZILAH
    1. At-Tauhid

At-Tauhid( pengesaan Allah) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhan lah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tidak adasatu pun yang menyamai-Nya.

  1. Al-Adl

Al-Adl yang berarti Tuhan Maha Adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gambling untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan Maha Sempurna, Dia sudah pasti adil.

Adilan tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, antara lain berikut ini:

  1. Perbuatan Manusia

Manusia menurut Mu’tazilah,manusia bena-benar bebas untuk menentukan pilihan perbuatannya; baik atau buruk.  Tuhan hanya menyuruh dan menghendaki yang baik, bukan yang buruk. Tuhan berlepas diri dari perbuatan yang buruk. Konsep ini memiliki  konsekuensi logis dengan kedilan Tuhan bahwa apa yang akan diterima di akhirat merupakan balasan perbutannya di dunia.

 

  1. Berbuat baik dan terbaik

Dalam bahasa arab, disebut ash-shalah wa al ashlah. Maksudnya adalah kewajban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan Tuhan Penjahat dan Penganiaya, sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Tuhan, yaitu sifat-sifat yang layak baginya.

 

  1. Mengutus Rasul

Mengutus rasul kepada manusia merupakan kewajiban Tuhan karena alsan-alasan berikut :

a)      Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat erwujud, kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.

b)      Al-Quran secara tegas meyatakan kewjiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia.

c)      Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut berhasil, tidak ada jalan lain, selain mengutus Rasul.

 

  1. Al-Wa’d wa al-Wa’id

Ajaran ini begitu erat hubungannya dengan ajran kedua diatas. Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janji-Nya. Perbuatan Tuhan terkait dan dibatasi oleh janji-Nya sendiri.Yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik dan ancaman neraka bagi yang berbuat durhaka.Begitu pula janji yang memberi pengampunan pada orang yang bertobat nasuha.Ajaran ini bertujuan untuk mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.[2]

 

 

  1. Al-Manzilah bain al-manzilatain

Inilah ajaran yang mula-mula menyebabkan lahirnya madzhab Mu’tazilah. Pokok ajaran ini adalah bahwa mu’min yang melakukan dosa besar dan belum bertobat maka ia bukan lagi mu’min atau kafir, tetapi fasik. Ajaran ini bertujuan agar manusia tidak menyepelekan perbuatan dosa, terutama dosa besar.

 

  1. Al Amr bi Al-Ma’rufwa An-Nahynan Munkar

Ajaran kelima ini menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran.Ajaran ini menekankan kepada kebenaran dan kebaikan.Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang.Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya menyuruh oarng berbuat baik dan mencegah dari kejahatan.[3]

 

  1. TOKOH-TOKOH MUTA’ZILAH

1.      Washil bin atha’

Washil bin atho’di lahirkan di madinah tahun 70-an. Ia pindah kebasrah untuk belajar. Di sana ia berguru kepada seorang ulama masyur, yaitu hasan al-basri. Washil bin atho’ temasuk rmurid yang pandai,cerdas, tekun belajar. Ia berani berani mengeluarkan pendapat yang berbeda sehingga ia bersama pengikutnya di namakan golongan di namakan mu’tazillah. Pemikiran adalah diantara nya seorang muslim yang berbuat doosa besar dihukumi tidak mukmin dan tidak pula kafir, tetapi fasik dan keberadan orang tersebut diantaranya mukmin dan kafir.

Washil bin atho’ untuk mengguatkan pendapat bahwa iman itu adalah ungkapan bagi sifat-sifat oran yang baik, yanyg apabila sifanya-sifat tersebut terkumpul pada diri seseorang  maka ia di sebut mukmin.dengan demikian, kata mukmin tersebut murupakan nama pujian. Orang yang melakukan dosa besar berarti memiliki sifat-sifat yang tidak baik, maka ia tidak berhak untuik mendapakan nama pujian itu.

2.      Abu huzail al-allaf

Abu huzail al-allaf di ;lahirkantahun 135h/751 m. ia berguru kepad usman at-tawil (murid washil bin atho’)dan hidup dimana pada zaman dimana ilmu pengetahuan seperti filsafat dan ilmu-ilmu lain dari yunani \telah berkembang pesat di diunia arab.ia wafat tahun 235 h /849 m.abu huzail merupakan generasi kedua mu’tazillah yang menintroduksi dan menyusun dasar-dasar paham mu’tazillah dan disebut ushul khamsah.

  1. Al-jubai

Ia mempunyai nama ali muhamad binabdul wahabyang lahir tahun25 h/849 mdi jubai. Al-jubaiberguru kepada asy-syahham, salah seorang murid abu huzail.ia mempunyai pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh mu’tazillah lainnya, yakni mereka mengutamakan akal dalam memahami dan memecahkan perssoalan teologi.

  1. As-zamakhsyari

Az-zamaksyari lahir pada tahun 467 h dan belajar di beberapa negara, ia pernah bermukim di tanah suci mekah  dalam rangka belajar agama, selain itu juga banyak mengunakan waktunya untuk menyusuk kitab tafsir al-kasysyaf yang berorientasi paham mu’tazillah,meski demikian kitab tafsir beliau tidakhanya di guna dari kalangan mu’tazillah saja. Beliau juga banyak juga menyusun buku tentah balaghah bahasah dan lainnya dan ia wafat tahun 538 H

 

 

 

 

ASY-‘ARIYAH

 

                               I.            LATAR BELAKANG ASY-‘ARIYAH

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 260 H/875 M. ayahnya wafat ketika ia masih kecil dan ibunya menikah lagi dengan tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Berkat didikan ayah tirinya Al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mu’tazilah.Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.Al-asy’ari menganut paham mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. Setelah itu , secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah.

                            II.            DOKTRIN-DOKTRIN TEOLOGI ASY-‘ARIYAH

  1. Tuhan dan sifat-Sifat-Nya

Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat (Wujud, qidam, baqa, wahdania, sama’, basyar, dll) dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah ,melainkan secara simbolis.selanjutnya Al-asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip .

  1. Kebebasan dalam berkehendak

Al-Asy’ari membedakan antara khaliq dan  kasb , menurutnya Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia. Sedangkan manusia sendiri yang mengupayakan . hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu ( termasuk keinginan manusia).

  1. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk

Walaupul Al-asy’ari dan orang-orang mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu , mereka berbeda dalam menghadapi persoalan .Al-asy’ari mengutamakan wahyu sementara mu’tazilah mengutamkan akal.dalam menetukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat. Al-asy’ari berpendapat bahwa baik buruk harus berdasarkan wahyu sedangkan mu’taazilah berdasarkan pada akal.

 

  1. Melihat Allah

 

Al-Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah ,yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu juga tidak sependapat dengan mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat allah ) di akhirat.  Al-asy;ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.

  1. Keadilan

Pada dasarnya Al-asy’ari dan mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada  orang yang berbuat baik. Menurutnya , allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah penguasa Mutlak.

  1. Kedudukan orang yang berdosa

Al-asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang di anut Mu’tazilah.  Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh krena itu, Al asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin  hilang karena dosa selain kufr.

                                                          

 

 

 

                         III.            TOKOH-TOKOH ASY-‘ARIYAH

1. Al-Baqillani

 

       Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

 

2. Al-Juwaini

Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:

  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan.

4.      Al-Ghazaly

Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll.Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.

 

PERBANDINGAN ANTARA MU’TAZILAH DAN AL-ASY’ARI

  1. Perbandingan tentang dosa besar

Mu’tazilah tidak menentukan status atau predikat yang pasti mengenai pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali dengan sebutan al-manzilah bain al-manzilatain (fasik).

Al-asy’ari berpendapat kalau orang yang melakukan dosa besar masih tetap beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia di pandang telah kafir.

  1. Perbandingan tentang iman dan kufur

Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan unsure terpenting dalam konsep iman , bahkan hamper mengidentifikasikannya dengan iman. Aspek penting lainnya tentan iman yaitu apa yang mereka identifikasikan dengan sebagai ma’rifah (pengetahuan dan akal).

Al-asy’ari berkata,”..iman (secara esensial) adalah  tashdiq bi al-jaman (membenarkan dalam hati), mengatakan dengan lisan, dan melakukan berbagai kewajiban. …. Keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.”

  1. Perbandingan tentang perbuatan tuhan dan perbuatan manusia
  • Perbuatan tuhan

Berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Anbiya[21]:23 dan surat Ar-Rum[30]:8, mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan MahaSuci dari perbuatan buruk. Faham ini memunculkan faham kewajiban Allah yaitu, kewajiban tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia, kewajiban mengirimkan rasul, dan kewajiban menepati janji dan ancaman.

Paham mu’tazilah tidak dapat di terima ole Al-Asy’ari, karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan. Dengan demikian Al-Asy’ari tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat berbuat sekehendak hatiNya terhadap makhluk.

  • Perbuatan manusia

Aliran mu’tazilah memandang manusia mempunya daya yang besar dan bebas. Manusia sendirilah yang berbuat baik dan buruk.

Aliran al-asy’ari berpendapat bahwa perbuatan manusia di ciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya.[4]

  1. Perbandingan tentang sifat Allah

Menurut mu’tazilah Allah tidak memiliki sifat sedangkan menurut al-asy’ari Allah mempunyai sifat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

                Rozak,Abdul dan Anwar Rosihon.2006: Ilmu Kalam. Bandung. Pustaka Setia.

 

               http://waskitozx.wordpress.com/makalah/makalah-pendidikan-islam/makalah-akidah/aliran-mutazilah-sejarah-tokoh-dan-ajaranya/ senin110313

             

             Abas, Nukman.Al-asy’ar(874-935 M) Misteri Perbuatan manusia dan Takdir Tuhan.Jakarta.Erlangga.

 

 


[1] Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Pustaka setia. Cet.II 2006. Bandung, hlm.77

[3] Abdul rozak, op.cit.,hlm.80

[4] Abdul Rozak. Op.cit.,hal.167

Pembahasan

 

MU’TAZILAH

 

  1. Latar Belakang Munculnya Mu’tazilah

 

Secara harafiah kata Mu’tazilah berasal dari i’tazala yang berarati berpisah atau memisahkan diri, yang berarti juga menjauh atau menjauhkan diri. Secara teknis,, istilah Mu’tazilah menunjuk pada dua golongan.Golongan pertama ( selanjutnya disebut Mu’tazilah I ) muncul sebagai respon politik murni. Golongan ini tumbuh sebagai kaum netral politik, khususnya dalam arti bersikap lunak dalam menangani pertentangan antara Ali bin Abi Thalib dan lawanlawannya terutama Mu’awiyah, Aisyah, dan Abdullah bin Ziubair.

 

 Golongan kedua ( selanjutnya Mu’tazilah II ) muncul karena mereka berbeda pendapat dengan golongan Khawarij dan Murji’ah tentang pemberian status kafir kepada orang-orang yang berbuat dosa besar.Pemberian nama Mu’tazilah ada beberapa versi, salah satunya adalah berpusat pada peristiwa yang terjadi antara Wasil bin Ata serta temannya, Amr bin Ubaid, dan Hasan Al-Basri Basrah. Ketika Wasil mengikuti pelajaran dari Hasan Al-Basri,datang seseorang bertanya mengenai pendapat Hasan Al-Basri tentang orang yang berdosa besar.

 

Ketika Hasan Al-Basri masih berpikir, Wasil mengemukakan pendapatnya dengan mengatakan. “ Saya berpendapat bahwa orang yang berbuat dosa besar bukanlah  mukmin dan bukan pula kafir, tetapi berada pada posisi diantara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir. ” Kemudian Wasil menjauhkan diri  dari Hasan. Setelah itu, Hasan berkata, “ Wasil menjauhkan diri dari kita ( I’tazala anna ).” Menurut Asy-Syahrastani, kelompok yang memisahkan dari pada peristiwa inilah yang disebut kaum Mu’tazilah.[1]

 

  1. DOKTRIN-DOKTRIN  MU’TAZILAH
    1. At-Tauhid

At-Tauhid( pengesaan Allah) merupakan prinsip utama dan intisari ajaran Mu’tazilah. Menurut Mu’tazilah, Tuhan harus disucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-Nya. Tuhan lah satu-satunya yang Esa, yang unik dan tidak adasatu pun yang menyamai-Nya.

  1. Al-Adl

Al-Adl yang berarti Tuhan Maha Adil. Adil ini merupakan sifat yang paling gambling untuk menunjukkan kesempurnaan. Karena Tuhan Maha Sempurna, Dia sudah pasti adil.

Adilan tentang keadilan ini berkaitan erat dengan beberapa hal, antara lain berikut ini:

  1. Perbuatan Manusia

Manusia menurut Mu’tazilah,manusia bena-benar bebas untuk menentukan pilihan perbuatannya; baik atau buruk.  Tuhan hanya menyuruh dan menghendaki yang baik, bukan yang buruk. Tuhan berlepas diri dari perbuatan yang buruk. Konsep ini memiliki  konsekuensi logis dengan kedilan Tuhan bahwa apa yang akan diterima di akhirat merupakan balasan perbutannya di dunia.

 

  1. Berbuat baik dan terbaik

Dalam bahasa arab, disebut ash-shalah wa al ashlah. Maksudnya adalah kewajban Tuhan untuk berbuat baik, bahkan terbaik bagi manusia. Tuhan tidak mungkin jahat dan aniaya karena akan menimbulkan kesan Tuhan Penjahat dan Penganiaya, sesuatu yang tidak layak bagi Tuhan. Konsep ini berkaitan dengan kebijaksanaan, kemurahan, dan kepengasihan Tuhan, yaitu sifat-sifat yang layak baginya.

 

  1. Mengutus Rasul

Mengutus rasul kepada manusia merupakan kewajiban Tuhan karena alsan-alasan berikut :

a)      Tuhan wajib berlaku baik kepada manusia dan hal itu tidak dapat erwujud, kecuali dengan mengutus rasul kepada mereka.

b)      Al-Quran secara tegas meyatakan kewjiban Tuhan untuk memberikan belas kasih kepada manusia.

c)      Tujuan diciptakannya manusia adalah untuk beribadah kepada-Nya. Agar tujuan tersebut berhasil, tidak ada jalan lain, selain mengutus Rasul.

 

  1. Al-Wa’d wa al-Wa’id

Ajaran ini begitu erat hubungannya dengan ajran kedua diatas. Tuhan yang Maha Adil dan Maha Bijaksana, tidak akan melanggar janji-Nya. Perbuatan Tuhan terkait dan dibatasi oleh janji-Nya sendiri.Yaitu memberi pahala surga bagi yang berbuat baik dan ancaman neraka bagi yang berbuat durhaka.Begitu pula janji yang memberi pengampunan pada orang yang bertobat nasuha.Ajaran ini bertujuan untuk mendorong manusia berbuat baik dan tidak melakukan perbuatan dosa.[2]

 

 

  1. Al-Manzilah bain al-manzilatain

Inilah ajaran yang mula-mula menyebabkan lahirnya madzhab Mu’tazilah. Pokok ajaran ini adalah bahwa mu’min yang melakukan dosa besar dan belum bertobat maka ia bukan lagi mu’min atau kafir, tetapi fasik. Ajaran ini bertujuan agar manusia tidak menyepelekan perbuatan dosa, terutama dosa besar.

 

  1. Al Amr bi Al-Ma’rufwa An-Nahynan Munkar

Ajaran kelima ini menyuruh kebajikan dan melarang kemungkaran.Ajaran ini menekankan kepada kebenaran dan kebaikan.Ini merupakan konsekuensi logis dari keimanan seseorang.Pengakuan keimanan harus dibuktikan dengan perbuatan baik, diantaranya menyuruh oarng berbuat baik dan mencegah dari kejahatan.[3]

 

  1. TOKOH-TOKOH MUTA’ZILAH

1.      Washil bin atha’

Washil bin atho’di lahirkan di madinah tahun 70-an. Ia pindah kebasrah untuk belajar. Di sana ia berguru kepada seorang ulama masyur, yaitu hasan al-basri. Washil bin atho’ temasuk rmurid yang pandai,cerdas, tekun belajar. Ia berani berani mengeluarkan pendapat yang berbeda sehingga ia bersama pengikutnya di namakan golongan di namakan mu’tazillah. Pemikiran adalah diantara nya seorang muslim yang berbuat doosa besar dihukumi tidak mukmin dan tidak pula kafir, tetapi fasik dan keberadan orang tersebut diantaranya mukmin dan kafir.

Washil bin atho’ untuk mengguatkan pendapat bahwa iman itu adalah ungkapan bagi sifat-sifat oran yang baik, yanyg apabila sifanya-sifat tersebut terkumpul pada diri seseorang  maka ia di sebut mukmin.dengan demikian, kata mukmin tersebut murupakan nama pujian. Orang yang melakukan dosa besar berarti memiliki sifat-sifat yang tidak baik, maka ia tidak berhak untuik mendapakan nama pujian itu.

2.      Abu huzail al-allaf

Abu huzail al-allaf di ;lahirkantahun 135h/751 m. ia berguru kepad usman at-tawil (murid washil bin atho’)dan hidup dimana pada zaman dimana ilmu pengetahuan seperti filsafat dan ilmu-ilmu lain dari yunani \telah berkembang pesat di diunia arab.ia wafat tahun 235 h /849 m.abu huzail merupakan generasi kedua mu’tazillah yang menintroduksi dan menyusun dasar-dasar paham mu’tazillah dan disebut ushul khamsah.

  1. Al-jubai

Ia mempunyai nama ali muhamad binabdul wahabyang lahir tahun25 h/849 mdi jubai. Al-jubaiberguru kepada asy-syahham, salah seorang murid abu huzail.ia mempunyai pola pikir yang tidak jauh berbeda dengan tokoh-tokoh mu’tazillah lainnya, yakni mereka mengutamakan akal dalam memahami dan memecahkan perssoalan teologi.

  1. As-zamakhsyari

Az-zamaksyari lahir pada tahun 467 h dan belajar di beberapa negara, ia pernah bermukim di tanah suci mekah  dalam rangka belajar agama, selain itu juga banyak mengunakan waktunya untuk menyusuk kitab tafsir al-kasysyaf yang berorientasi paham mu’tazillah,meski demikian kitab tafsir beliau tidakhanya di guna dari kalangan mu’tazillah saja. Beliau juga banyak juga menyusun buku tentah balaghah bahasah dan lainnya dan ia wafat tahun 538 H

 

 

 

 

ASY-‘ARIYAH

 

                               I.            LATAR BELAKANG ASY-‘ARIYAH

Nama Al-Asy’ariyah diambil dari nama Abu Al-Hasan Ali bin Ismail Al-Asy’ari yang dilahirkan dikota Bashrah (Irak) pada tahun 260 H/875 M. ayahnya wafat ketika ia masih kecil dan ibunya menikah lagi dengan tokoh Mu’tazilah waktu itu, yang bernama Abu Ali Al-Jubai. Berkat didikan ayah tirinya Al-asy’ari kemudian menjadi tokoh mu’tazilah.Dalam beberapa waktu lamanya ia merenungkan dan mempertimbangkan antara ajaran-ajaran Mu’tazillah dengan paham ahli-ahli fiqih dan hadist.Al-asy’ari menganut paham mu’tazilah hanya sampai ia berusia 40 tahun. Setelah itu , secara tiba-tiba ia mengumumkan di hadapan jama’ah masjid Bashrah bahwa dirinya telah meninggalkan faham mu’tazilah.

                            II.            DOKTRIN-DOKTRIN TEOLOGI ASY-‘ARIYAH

  1. Tuhan dan sifat-Sifat-Nya

Al-asy’ari berpendapat bahwa Allah memang memiliki sifat-sifat (Wujud, qidam, baqa, wahdania, sama’, basyar, dll) dan ini tidak boleh diartikan secara harfiah ,melainkan secara simbolis.selanjutnya Al-asy’ari berpendapat bahwa sifat-sifat Allah itu unik sehingga tidak dapat dibandingkan dengan sifat-sifat manusia yang tampaknya mirip .

  1. Kebebasan dalam berkehendak

Al-Asy’ari membedakan antara khaliq dan  kasb , menurutnya Allah adalah pencipta (khaliq) perbuatan manusia. Sedangkan manusia sendiri yang mengupayakan . hanya Allah lah yang mampu menciptakan segala sesuatu ( termasuk keinginan manusia).

  1. Akal dan wahyu dan kriteria baik dan buruk

Walaupul Al-asy’ari dan orang-orang mu’tazilah mengakui pentingnya akal dan wahyu , mereka berbeda dalam menghadapi persoalan .Al-asy’ari mengutamakan wahyu sementara mu’tazilah mengutamkan akal.dalam menetukan baik buruk pun terjadi perbedaan pendapat. Al-asy’ari berpendapat bahwa baik buruk harus berdasarkan wahyu sedangkan mu’taazilah berdasarkan pada akal.

 

  1. Melihat Allah

 

Al-Asy’ari tidak sependapat dengan kelompok ortodoks ekstrim, terutama zahiriyah ,yang menyatakan bahwa Allah dapat dilihat di akhirat dan mempercayai bahwa Allah bersemayam di Arsy. Selain itu juga tidak sependapat dengan mu’tazilah yang mengingkari ru’yatullah (melihat allah ) di akhirat.  Al-asy;ari yakin bahwa Allah dapat dilihat di akhirat, tetapi tidak dapat digambarkan. Kemungkinan ru’yat dapat terjadi manakala Allah sendiri yang menyebabkan dapat dilihat atau bilamana Ia menciptakan kemampuan penglihatan manusia untuk melihat-Nya.

  1. Keadilan

Pada dasarnya Al-asy’ari dan mu’tazilah setuju bahwa Allah itu adil. Mereka hanya berbeda dalam memandang makna keadilan. Al-asy’ari tidak sependapat dengan Mu’tazilah yang mengharuskan Allah berbuat adil sehingga Dia harus menyiksa orang yang salah dan memberi pahala kepada  orang yang berbuat baik. Menurutnya , allah tidak memiliki keharusan apapun karena Ia adalah penguasa Mutlak.

  1. Kedudukan orang yang berdosa

Al-asy’ari menolak ajaran posisi menengah yang di anut Mu’tazilah.  Mengingat kenyataan bahwa iman merupakan lawan kufr, predikat bagi seseorang haruslah salah satu diantaranya. Jika tidak mukmin, ia kafir. Oleh krena itu, Al asy’ari berpendapat bahwa mukmin yang berbuat dosa besar adalah mukmin yang fasik, sebab iman tidak mungkin  hilang karena dosa selain kufr.

                                                          

 

 

 

                         III.            TOKOH-TOKOH ASY-‘ARIYAH

1. Al-Baqillani

 

       Namanya Abu Bakar Muhammad bin Tayib, diduga kelahiran kota Basrah, tempat kelahiran gurunya, yaitu Al-Asy’ari. ia terkenal cerdas otaknya, simpatik dan banyak jasanya dalam pembelaan agama. Al-Baqillani mengambil teori atom yang telah dibicarakan oleh aliran mu’tazillah sebagai dasar penetapan kekuasaan Tuhan yang tak terbatas. Jauhar adalah suatu hal yang mungkin, artinya bisa wujud dan bisa tidak, seperti halnya aradh. dan menurutnya tiap-tiap aradh mempunyai lawan aradh pula. Disinilah terjadi mukjizat itu karena mukjizat tidak lain hanyalah penyimpangan dari kebiasaan.

 

2. Al-Juwaini

Namanya Abdul Ma’ali bin Abdillah, dilahirkan di Naisabur (Iran), kemudian setelah besar pergi kekota Mu’askar dan akhirnya tinggal di kota Bagdad. kegiatan ilmiahnya meliputi ushul fiqh dan teologi islam.Empat hal yang berlaku pada kedua alam tersebut, alam yang tidak dapat disaksikan dengan alam yang dapat disaksikan, yaitu:

  • Illat : Seperti ada sifat “ilmu” (tahu) menjadi illat (sebab) seseorang dikatakan “mengetahui” (alim).
  • Syarat : Sifat “hidup” menjadi syarat seseorang dikatakan mengetahui
  • Hakikat : Hakikat orang yang mengetahui ialah orang yang mempunyai sifat “ilmu”
  • Akal pikiran : Seperti penciptaan menunjukkan adanya zat yang menciptakan.

4.      Al-Ghazaly

Namanya Abu Hamid Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali, gelar Hujjatul Islam, lahir tahun 450 H, di Tus kota kecil di Churassan (Iran). Al-Ghazali adalah ahli pikir islam yang memiliki puluhan karya seperti Teologi islam, Hukum islam, dll.Sikap Al-Ghazali yang dikemukakan dalam bukunya yang berjudul Faishalut Tafriqah bainal islam waz zandaqah dan Al-Iqtishad. menurut Al-Ghazali perbedaan dalam soal – soal kecil baik yang bertalian dengan soal – soal aqidah atau amalan, bahkan pengingkaran terhadap soal khilaffat yang sudah disepakati oleh kaum muslimin tidak boleh dijadikan alasan untuk mengkafirkan orang.

 

PERBANDINGAN ANTARA MU’TAZILAH DAN AL-ASY’ARI

  1. Perbandingan tentang dosa besar

Mu’tazilah tidak menentukan status atau predikat yang pasti mengenai pelaku dosa besar, apakah ia tetap mukmin atau kafir, kecuali dengan sebutan al-manzilah bain al-manzilatain (fasik).

Al-asy’ari berpendapat kalau orang yang melakukan dosa besar masih tetap beriman dengan keimanan yang mereka miliki, sekalipun berbuat dosa besar. Akan tetapi, jika dosa besar itu dilakukannya dengan anggapan bahwa hal ini di bolehkan (halal) dan tidak meyakini keharamannya, ia di pandang telah kafir.

  1. Perbandingan tentang iman dan kufur

Seluruh pemikir Mu’tazilah sepakat bahwa amal perbuatan merupakan unsure terpenting dalam konsep iman , bahkan hamper mengidentifikasikannya dengan iman. Aspek penting lainnya tentan iman yaitu apa yang mereka identifikasikan dengan sebagai ma’rifah (pengetahuan dan akal).

Al-asy’ari berkata,”..iman (secara esensial) adalah  tashdiq bi al-jaman (membenarkan dalam hati), mengatakan dengan lisan, dan melakukan berbagai kewajiban. …. Keimanan seseorang tidak akan hilang kecuali jika ia mengingkari salah satu dari hal-hal tersebut.”

  1. Perbandingan tentang perbuatan tuhan dan perbuatan manusia
  • Perbuatan tuhan

Berdasarkan Al-Qur’an surat Al-Anbiya[21]:23 dan surat Ar-Rum[30]:8, mu’tazilah berpendapat bahwa Tuhan hanya berbuat yang baik dan MahaSuci dari perbuatan buruk. Faham ini memunculkan faham kewajiban Allah yaitu, kewajiban tidak memberikan beban di luar kemampuan manusia, kewajiban mengirimkan rasul, dan kewajiban menepati janji dan ancaman.

Paham mu’tazilah tidak dapat di terima ole Al-Asy’ari, karena bertentangan dengan faham kekuasaan dan kehendak mutlak tuhan. Dengan demikian Al-Asy’ari tidak menerima faham Tuhan mempunyai kewajiban. Tuhan dapat berbuat sekehendak hatiNya terhadap makhluk.

  • Perbuatan manusia

Aliran mu’tazilah memandang manusia mempunya daya yang besar dan bebas. Manusia sendirilah yang berbuat baik dan buruk.

Aliran al-asy’ari berpendapat bahwa perbuatan manusia di ciptakan Allah, sedangkan daya manusia tidak mempunyai efek untuk mewujudkannya.[4]

  1. Perbandingan tentang sifat Allah

Menurut mu’tazilah Allah tidak memiliki sifat sedangkan menurut al-asy’ari Allah mempunyai sifat.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                                                                 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

                Rozak,Abdul dan Anwar Rosihon.2006: Ilmu Kalam. Bandung. Pustaka Setia.

 

               http://waskitozx.wordpress.com/makalah/makalah-pendidikan-islam/makalah-akidah/aliran-mutazilah-sejarah-tokoh-dan-ajaranya/ senin110313

             

             Abas, Nukman.Al-asy’ar(874-935 M) Misteri Perbuatan manusia dan Takdir Tuhan.Jakarta.Erlangga.

 

 


[1] Abdul Rozak. Ilmu Kalam. Pustaka setia. Cet.II 2006. Bandung, hlm.77

[3] Abdul rozak, op.cit.,hlm.80

[4] Abdul Rozak. Op.cit.,hal.167

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s